Dari Laboratorium Dunia hingga Panti Lansia, Kisah Inspiratif Penerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia
Info Negara- Semangat pengabdian bisa lahir dari ruang yang berbeda: laboratorium penelitian internasional dan sebuah rumah sederhana yang bertransformasi menjadi panti lansia penuh kasih. Dua sosok luar biasa membuktikan hal itu saat menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia yang diserahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (25/8/2025).
Mereka adalah Carina Citra Dewi Joe, ilmuwan bioteknologi dengan reputasi dunia, dan Aipda Muhammad Irvan, anggota kepolisian di Singkawang, Kalimantan Barat, yang mengabdikan hidupnya untuk merawat para lansia terlantar.

Baca Jugaa : Ribuan Peserta Ramaikan Merdeka Run 8.0K, Semarak HUT ke-80 RI di Jakarta
Carina Citra Dewi Joe: Ilmuwan Indonesia di Panggung Dunia
Nama Carina Citra Dewi Joe mungkin tidak banyak dikenal masyarakat awam, tetapi dalam dunia ilmiah internasional, kiprahnya sangat diperhitungkan. Ia tercatat sebagai salah satu pemegang paten vaksin COVID-19 Oxford–AstraZeneca, salah satu vaksin yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Perannya tidak berhenti pada riset laboratorium. Carina ikut memastikan vaksin ini dapat diproduksi dengan formula sederhana dan biaya yang lebih terjangkau, sehingga bisa diakses oleh negara-negara berkembang. Vaksin AstraZeneca kemudian menjadi kunci penyelamatan jutaan nyawa di masa pandemi, termasuk di Indonesia.
Atas dedikasi luar biasa itu, pemerintah menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepadanya. Penghargaan ini tidak hanya mengapresiasi keberhasilan akademis, tetapi juga menegaskan bahwa anak bangsa mampu memberi kontribusi besar di tingkat global.
“Ilmu pengetahuan seharusnya memberi manfaat untuk semua orang, bukan hanya segelintir,” begitu pesan Carina saat menerima penghargaan tersebut. Kata-kata sederhana itu menggambarkan filosofi hidupnya: ilmu untuk kemanusiaan.
Aipda Muhammad Irvan: Polisi yang Menjadi Anak bagi Lansia
Berbeda dari Carina, pengabdian Aipda Muhammad Irvan berawal dari hal sederhana. Pada 2018, ia mulai merawat beberapa lansia terlantar di rumah pribadinya di Singkawang. Dorongan utamanya hanyalah rasa kasihan melihat mereka hidup tanpa keluarga dan perhatian.
Namun niat tulus itu tumbuh menjadi gerakan besar. Berkat bantuan masyarakat, warganet, dan donatur, ia berhasil membangun “Hotel Lancaria”, sebuah panti lansia gratis yang menyerupai hotel dengan 24 kamar lengkap dengan fasilitas medis.
Kini, lebih dari 20 lansia tinggal dengan nyaman di sana. Mereka mendapat makanan bergizi, layanan kesehatan, hingga ambulans gratis. Tidak ada biaya sepeser pun yang dibebankan, karena bagi Irvan, merawat orang tua sama halnya seperti merawat orang tuanya sendiri.
“Bagi saya, mereka bukan sekadar lansia terlantar. Mereka adalah orang tua yang harus kita hormati dan cintai,” ujarnya penuh haru.
Atas pengabdian kemanusiaannya, Aipda Irvan dianugerahi Satyalancana Karya Satya, sebuah tanda kehormatan yang pantas untuk dedikasi tanpa pamrih.
Satu Tujuan, Dua Jalan Pengabdian
Kisah Carina dan Irvan menunjukkan bahwa pengabdian tidak mengenal batas profesi. Seorang ilmuwan bisa menyelamatkan jutaan nyawa lewat risetnya, sementara seorang polisi bisa memberikan kebahagiaan kepada segelintir orang dengan kasih tulus yang konsisten.
Dua jalan yang berbeda, namun keduanya menuju tujuan yang sama: menghadirkan manfaat nyata bagi sesama dan mengharumkan nama bangsa.
Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan bahwa negara selalu membutuhkan sosok-sosok inspiratif seperti mereka. “Bangsa ini besar karena rakyatnya tidak pernah berhenti berbuat baik, sekecil apapun itu,” ujarnya.
Penghargaan ini tidak hanya menjadi tanda jasa, tetapi juga pengingat bahwa siapa pun, di mana pun, bisa menjadi cahaya bagi orang lain.
















